Berita Mancanegara

Berita Mancanegara dalam Perspektif Indonesia

Tuduh Kampus Bias Gender, Mahasiswa Pemerkosa Ajukan Gugatan

Diposting oleh On Selasa, Desember 27, 2016 with No comments

AMERIKA SERIKAT - Seorang mantan mahasiswa Indiana University menggugat universitas. Dia menuduh pihak kampus memberi perlakuan istimewa kepada seorang mahasiswi yang menuduhnya memperkosa. Kampus dinilai memberi terlalu memihak korban. Sehingga dia tak mendapat kesempatan memadai untuk membela diri.

Aaron Farrer (21) dari Lafayette, Indiana dituduh melakukan perkosaan pada bulan September 2015. Korbannya, seorang maahasiwi, tengah mabuk saat kejadian. Wanita itu memberikan bukti kepada polisi berupa pesan SMS dari pelaku yang meminta maaf atas peristiwa tersebut.

Kepada polisi, Farrer berdalih korban setuju untuk melakukan hubungan seksual. Bahkan pihak wanita yang memprakarsai kejadian tersebut.

November, Farrer dikeluarkan dari sekolah di Bloomington, Indiana atas dasar dokumen pengadilan. Tetapi di sidang tingkat berikutnya, hakim membebaskan dirinya karena tidak tersedia cukup bukti.

Minggu ini, Farrer mengajukan gugatan federal di Pengadilan Negeri AS. Dia menyatakan difitnah. "Kampus terlibat dalam penyelidikan yang bersifat bias gender. Yang memuncak dengan pemecatan saya dari kampus," keluhannya. Dia menambahkan, tidak diberi ruang memadai untuk membela diri.

The Indianapolis Star dan USA TODAY tidak menyebutkan nama korban. Farrer menuduh, kampus berusaha mendisiplinkan mahasiswa laki-laki yang mencoba melakukan kontak fisik dengan mahasiwi. Tetapi gagal mendisiplinkan mahasiswi perempuan yang melakukan hal yang sama.

Dia menuduh laki-laki tidak diberi kesempatan membela diri dalam penyelidikan awal. Ia mengatakan, tuduhan perkosaan terhadap dirinya dinyatakan sebagai kebenaran semenjak awal. Dia menilai, universitas tidak ingin mendapat malu atau menerima publisitas negatif.

Margie Smith-Simmons, juru bicara sekolah membantah tuduhan tersebut. "Indiana University sangat berkomitmen untuk menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman untuk semua anggota masyarakat. Serta menjamin proses yang adil dan mampu perlindungan proses hukum," katanya kepada USA Today.

Kasus Serupa
Kasus serupa terjadi April 2015. Seorang mahasiswa laki-laki di University of California, San Diego, mengajukan gugatan terhadap sekolah. Dia dikeluarkan setelah seorang mahasiswi menuduhnya memperkosa. Mahasiswa tersebut, Francisco Sousa, mengaku tidak diizinkan memberikan pesan teks dan bukti lain terkait insiden tersebut, menurut pengaduan itu.

Pelecehan dan penyerangan seksual merupakan isu yang berkembang di banyak kampus di Amerika Serikat. Agustus lalu, Stanford University mengumumkan larangan minuman keras di kampus. Hal itu menyusul meningkatnya kasus penyerangan seksual di kawasan kampus. Termasuk kasus mahasiswa Brock Turner, yang dihukum enam bulan penjara atas tiga tuduhan kejahatan kekerasan seksual.

Mayoritas serangan seksual, sekitar 63%,  tidak dilaporkan ke polisi. Demikian data National Sexual Violence Resource Center tahun 2012. Sebuah analisis menyebutkan, prevelansi laporan palsu antara 2% dan 10%.

Farrer menuntut juri pengadilan. Dia meminta ganti rugi 75.000 dolar. Serta perintah yang mengharuskan Indiana University mengembalikan statusnya. Dia juga menuntut kampus menghapus file dari semua informasi yang terkait dengan interaksi dengan penuduhnya. (Lyn-04)
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »